KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT,yang atas rahmat-NYA saya
bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “PENDEKATAN PEMBELAJARAN”
Tugas makalah merupakan salah satu tugas mata kuliah Strategi Belajar
Mengajar Bidang Studi.
Dalam penulisan makalah ini saya merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan saya yang terbatas. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat saya harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Dalam makalah ini saya menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang
membantu dalam mengerjakan makalah ini. Terutama saya ucapkan terima kasih kepada Dr. Nurul Umamah, M.Pd yang telah
memberi tugas ini.
Akhirnya saya berharap agar makalah yang saya buat bisa bermanfaat.
Jember, September
2015
Penulis
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Di era globalisasi ini semua aspek kehidupan dituntut untuk terus maju dan
berkembang dengan cepat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus
diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin
global. Peningkatan sumber daya manusia juga berpengaruh terhadap duia
pendidikan. Pendidikan merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya
manusia harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas.
Upaya pengembangan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar anak didik
dapat menerima didikan denga baik.
Dalam kegiatan pebelajaran
sangat diperlukannya interaksi antara guru
dan murid yang memilii tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai
dengan target maka perlu terjadi interaksi yang positif antara guru dan murid.
Dalam interaksi antara kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak
membosankan. Hal ini selain agar mencapai target siswa juga akan menjadi senang
dalam kegiatan pembelajaran.
Sehingga dalam mengajar
diperlukan pendekatan dalam pembelajaran. Pendidik harus pandai menggunakan
pendekatan secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap murid akan
menentukan sikap dan perbuatan murid.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang hendak dicapai
dalam makalah ini adalah :
1.
Apakah
pengertian pendekatan pembelajaran ?
2.
Apakah fungsi
pendekatan pembelajaran ?
3.
Apa saja
jenis-jenis pendekatan pebelajaran?
4.
Apa saja
tipe-tipe pendekatan pembelajaran ?
5.
Bagaimana implikasi
pendekatan pembelajaran dalam pembelajaran ?
1.3
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan makalah
yang hendak dicapai adalah :
1.
Untuk
mengetahui pengertian pendekatan pembelajaran ?
2.
Untuk
mengetahui fungsi pendekatan pembelajaran ?
3.
Untuk
mengetahui jenis-jenis pendekatan pembelajaran?
4.
Untuk
mengetahui apa saja tipe-tipe pendekatan pembelajaran ?
5.
Untuk
mengetahui bagaimana implikasi pendekatan pembelajaran dalam pembelajaran ?
1.4
Manfat
Berdasakan tujuan di atas , manfaat yang aka didapat
dalam makalah ini adalah :
1.
Agar kita bisa
mengerti apa itu pengertian pendekatan pembelajaran.
2.
Agar kita tahu
fungsi pendekatan pembelajaran.
3.
Agar kita bisa
mengetahui jenis-jenis pendekatan pembelajaran.
4.
Agar kita
mengetahui tipe-tipe pendekatan pembelajaran.
5.
Agar kita tahu
bagaimana cara mengimplikasikan pendekatan pembelajaran.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris approach yang salah
satu artinya adalah “Pendekatan”. Dalam pengajaran, approach diartikan sebagai
a way of beginning something ‘cara memulai sesuatu’. Depdikbud (1990:180)
pendekatan dapat diartikan sebagai proses, perbuatan, atau cara mendekati
sesuatu. karena itu, pengertian pendekatan dapat diartikan cara memulai
pembelajaran. Dan lebih luas lagi, pendekatan berarti seperangkat asumsi
mengenai cara belajar-mengajar. Pendekatan merupakan titik awal dalam memandang
sesuatu, suatu filsafat, atau keyakinan yang kadang kala sulit membuktikannya.
Pendekatan ini bersifat aksiomatis. Aksiomatis artinya bahwa kebenaran teori
yang digunakan tidak dipersoalkan lagi.
Menurut Wahjoedi
(1999:121) pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan belajar dan
perilaku siswa agar berperan aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat
memperoleh hasil belajar secara optimal. Pendekatan pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran,
yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teorItis tertentu.
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis
pendekatan, yaitu:
1.
Pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses
pembelajaran, dan
2.
Pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam
proses pembelajaran.
2.2
Fungsi
Pendekatan Pembelajaran
Fungsi
pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
1.
sebagai pedoman
umum dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran yang akan digunakan.
2.
memberikan
garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3.
menilai
hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
4.
mendiaknosis
masalah-masalah belajar yang timbul, dan
5.
menilai hasil
penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.
2.3
Jenis-jenis
Pendekatan Pembelajaran
Ada beberapa pendekatan yang
diharapkan dapat membantu pendidik
dalam menyelesaikan
berbagai masalah dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya :
a.
Pendekatan
Individual
Pendekatan individual merupakan
pendekatan langsung dilakukan guru terhadap anak didiknya untuk memecahkan
kasus anak didiknya tersebut. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat
penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan
pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan
kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya
selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.
Pada kasus-kasus tertentu yang
timbul dalam kegiatan belajar mengajar dapat diatasi
dengan pendekatan individual. Misalnya untuk menghentikan anak
didik yang suka bicara. Caranya dengan memisahkan atau memindahkan salah
satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak
yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara ditempatkan pada
kelompok anak didik yang pendiam. Persoalan kesulitan
belajar anak didiklebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan
individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan. Perbedaan
individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa setrategi
pembelajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual
ini. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam
strategi belajar mengajarnya. Bila tidak, maka strategi belajar tuntas atau
mastery learning yang menuntut penguasaan penuh kepada anak didik tidak akan
pernah menjadi kenyataan. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat
diharapkan kepada anak didik denagan tingkat penguasaan optimal.
ciri-ciri yang menonjol pada
pembelajaran individual dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu:
a)
Tujuan
Pengajaran pada Pembelajaran secara Individual.
Guru membantu siswa yang menghadapi
kesukaran. Adapun tujuan pembelajaran yang menonjol adalah :
1.
pemberian
kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri.
Dalam pengajaran individual awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual.
2.
pengembangan
kemampuan tiap individu secara optimal. Tiap individu memiliki paket belajar
sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga.
b)
Peran Siswa dalam Pembelajaran secara
Individual.
Kedudukan siswa dalam pembelajaran
individual bersifat sentral. siswa memiliki keleluasaan berupa keleluasaan
belajar berdasarkan kemampuan sendiri,kebebasan menggunakan waktu belajar,
dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukannya,
keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar, dalam
rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, siswa melakukan penilaian
sendiri atas hasil belajar, siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar
sendiri, serta siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya
sendiri.
Keenam jenis kedudukan siswa tersebut berakibat pada adanya perbedaan tanggung jawab belajar mengajar. Pada pembelajaran secara individual, tanggung jawab siswa untuk belajar sendiri sangat besar. Pelajar bertanggung jawab penuh untuk belajar sendiri.
Keenam jenis kedudukan siswa tersebut berakibat pada adanya perbedaan tanggung jawab belajar mengajar. Pada pembelajaran secara individual, tanggung jawab siswa untuk belajar sendiri sangat besar. Pelajar bertanggung jawab penuh untuk belajar sendiri.
c)
Peran Guru dalam Pembelajaran secara
Individual.
Kedudukan guru dalam pembelajaran
individual bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen
pembelajaran berupa perencanaan kegiatan belajar, pengorganisasian kegiatan
belajar, penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa, dan fasilitas
yang mempermudah belajar. Perenan guru dalam merencanakan kegiatan belajar
sebagai berikut : membantu merencanakan kegiatan belajar siswa; dengan
musyawarah guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program
belajar sesuai kemampuan siswa, membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan
criteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar, berperan
sebagai penasihat atau pembimbing, dan membantu siswa dalam penilaian hasil
belajar dan kemajuan sendiri
d)
Program Pembelajaran dalam Pembelajaran
Individual.
Dari segi kebutuhan pebelajar,
program pembelajaran individual lebih efektif, sebab siswa belajar sesuai
dengan programnya sendiri. Dari segi guru, yang terkait dengan jumlah
pebelajar, tampak kurang efisien..Dari segi usia perkembangan pelajar, maka
program pembelajaran individual cocok bagi siswa SLTP ke atas. Hal ini
disebabkan oleh umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik, siswa mudah memahami
petunjuk atau perintah dengan baik, dan siswa dapat bekerja mandiri dan bekerja
sama dengan baik.Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok
untuk diprogramkan secara individual. Program pembelajaran individual dapat
dilaksanakan secara efektif, bila mempertimbangkan hal-hal berikut, disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti
oleh siswa, prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa, kriteria
keberhasilan dimengerti oleh siswa, dan keterlibatan guru dalam evaluasi
dimengerti siswa.
e)
Orientasi dan Tekanan Utama Pelaksanaan.
Program
pembelajaran individual berorientasi pada pemberian bantuan kepada se:iap siswa
agar ia dapat belajar secara mandiri. Kemandirian belajar tersebut merupakan
tuntutan perkembangan individu. Dalam pelaksanaan guru berperan sebagai
fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar, dan rekan diskusi.
Guru berperan sebagai guru pendidik, bukan instruktur.
b.
Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok memang suatu
saat diperlukan dan digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap
sosial anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis
makhluk homo socius yaitu makhluk yang cenderung untuk hidup bersama.
Dengan penekanan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan
rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk
mengendalikan rasa egois yang ada pada diri mereka masing-masing. Dan mereka
sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, tidak ada makhluk hidup yang terus
menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak
langsung, disadari atau tidak disadari.
Jadi pendekatan
kelompok adalah pendekatan yang dilakukan guru dengan
tujuan membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik serta membina
sikap kesetiakawanan sosial. Misalnya anak didik dibiasakan hidup bersama,
bekerja sama dengan kelompok sehingga akan menyadari bahwa dirinya
ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau
membantu mereka yang kekurangan. Sebaliknya mereka yang mempunyai kekurangan
dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan tanpa rasa
minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk
mencapai prestasi belajar yang optimal serta anak didik menjadi aktif, kreatif
dan mandiri. Pendekatan kelompok merupakan pendekatan yang dilakukan guru
dengan cara mengelompokkan anak didiknya sesuai dengan kriterianya demi
tercapainya kegiatan belajar mengajar.
Ketika guru akan menggunakan
pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa ahl itu tidak
bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan
dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberiakan kepada anak didik memang
cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan kelompok
tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus memnpertimbangkan hah-hal
yang ikut mempengaruhi penggunaannya. Dalam pengolahan kelas, terutama yang
berhubungan dengan penempatan anak didik, pendekatan kelompok sangat diperlukan
. Perbedaan individual anak didik, pada aspek biologis, intelektual, dan
psikologis dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok.
Ciri-ciri yang menonjol pada
pembelajaran secara kelompok dapat ditinjau dari :
a)
Tujuan
pengajaran pada kelompok kecil
Memberi kesempatan
kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara
rasional, mengembangkan sikap sosial dan
semangat bergotong royong dalam kehidupan, mendinamiskan kegiatan kelompok dalam
belajar sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian dari kelompok yang
bertanggung jawab mengembangkan kemampuan. Kepemimpinan pada tiap anggota kelompok
dalam pemecahan masalah kelompok.
b)
Siswa dalam
pembelajaran kelompok kecil
Siswa dalam kelompok kecil adalah anggota kelompok yang belajar untuk memecahkan masalah kelompok. Kelompok kecil merupakan satuan kerja yang kompak
dan kohesif.
c.
Pendekatan
Bervariasi
Permasalahan yang
dihadapi anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan
pendidik akan lebih tepat dengan menggunakan pendekatan bervariasi pula.
Misalnya anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan
berbeda cara pemecahannya / penyelesaiannya dan
menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Pendekatan
bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh
setiap anak didik dalam belajar adalah bermacam-macam. Kasus
yang biasanya muncul dalam pengajaran adalah berbagai motif
sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka
kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang
dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran. Jadi pendekatan
variasi adalah suatu pendekatan yang
dilakukan guru untuk menghadapi permasalahan anak didik yang
bervariasi dengan menggunakan variasi teknik pemecahan masalah tersebut.
Misalnya permasalahan anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka
bicara akan berbeda cara pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda
pula. Demikian juga halnya terhadap anak didik yang membuat keributan. Di sini
guru dapat menggunakan teknik pemecahan masalah dengan pendekatan variasi.
Dalam belajar,
anak didik mempunyai motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik mempunyai
motivasi yang rendah, tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang
tinggi. Anak didik yang satu bergairah belajar, anak didik yang lain kurang
bergairah belajar. Sementara sebagian besar anak belajar, satu atau dua orang
anak tidak ikut belajar. Mereka duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama
lain tentang hal-hal lain yang terlepas dari masalah pelajaran.Dalam mengajar,
guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana
kelas yang kondusif dalam waktu yang relatif lama. Bila terjadi perubahan
suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai ada tandanya gangguan
dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, jalannya pelajaran menjadi kurang
efektif, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan pun jadi terganggu.
Disebabkan anak didik kurang mampu berkonsentrasi.metode yang hanya
satu-satunya dipergunakan tidak dapat diperankan, karena memang gangguan itu
terpangkal dari kelemahan metode tersebut. Karena itu, dalam mengajar
kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu
metode.
Adapun Kelebihan Pendekatan Bervariasi yaitu:
a)
guru bebas
menggunakan metode apa saja yang diinginkan asal anak didiknya lebih memahami
materi yang diberikan.
b)
dapat
meningkatkan perolehan prestasi belajar siswa.
Kelemahan
Pendekatan Bervariasi yaitu:
a)
karena perbedaan
daya tangkap anak, terkadang pendekatan yang bervariasii tersebut justru tidak
cocik dengan sebagian anak didik.
b)
membutuhkan
kejelian para guru untuk menentukan pendekatan yang bagaimana yang cocok
diterapkan untuk anak didiknya.
Langkah-langkah
Pendekatan Bervariasi :
a)
guru menentukan
metode pembelajaran yang cocok untuk siswa.
b)
guru
menyampaikan materi pelajaran.
c)
siswa
mendengarkan materi pelajaran.
d)
kesimpulan.
d.
Pendekatan
Edukatif
Pendekatan yang
benar bagi pendidik adalah dengan pendekatan edukatif. Setiap tindakan,
sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan,
dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma
hukum, norma susila, norma sosial dan norma agama. Dengan tujuan meletakkan dan
membina watak anak didik dengan pendidikan akhlak yang mulia.
Membimbing anak didik bagaimana cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak
lainnya, membina bagaimana cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi
semua perintah yang bernilai kebaikan.
Jadi pendekatan
edukatif adalah suatu pendekatan yang dilakukan guru
terhadap anak didik yang bernilai pendidikan dengan tujuan
untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila,
norma moral, norma sosial dan norma agama. Misalnya ketika lonceng tanda masuk
kelas telah berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi mereka
disuruh berbaris di depan pintu masuk dan ketua kelas diperintahkan untuk
mengatur barisan, dan anak-anak berbaris dalam kelompok sejenisnya.
Kemudian guru berdiri sambil mengontrol mereka. semuanya dipersilahkan masuk
kelas satu persatu menyalami guru dan mencium tangan guru sebelum dilepas.
Akhirnya semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.
e.
Pendekatan
Keagamaan
Pendidikan dan
pelajaran disekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran,
tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran.dalam prateknya tidak hanya digunakan
satu, tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.Dengan penerapan
prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat
menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran.khususnya untuk
mata pelajaran umum sangat penting dengan pendekatan keagamaan. Mata pelajaran
umum sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini
dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu
dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti
prinsip korelasi dan sosialisasi, pendidik dapat menyisipkan pesan-pesan
keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja pendidik harus menguasai
ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Mata
pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah agama, tetapi ada
hubunganya.
Pendekatan
keagamaan adalah pendekatan yang memasukkan unsur-unsur agama
dalam setiap mata pelajaran dan untuk menanamkan jiwa agama kepada dalam diri
siswa. Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil rendahnya jiwa
agama didalam diri siswa, agar nilai-nilai agamanya tidak dicemoohkan dan
dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami,dihayati dan diamalkan siswa.
f.
Pendekatan
Kebermaknaan.
Dalam rangka
penguasaan bahasa asing guru tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang
harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu sebab kegagalan
penguasaan bahasa asing oleh siswa, adalah kurang tepatnya pendekatan yang
digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas,
lingkungan serta kompetensi guru. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja
tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam
setiap jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah
satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru,
yaitu pendekatan kebermaknaan.
Beberapa konsep
penting yang berkaitan dengan pendekatan ini diuraikan sebagai berikut:
a)
bahasa
merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan malalui struktur (tata
bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat
pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
b)
makna ditentukan
oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar
dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh
pemahaman lintas budaya.
c)
makna dapat
diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis.
Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda tergantung pada situasi saat
kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk
bahasa lisan atau tertulis.
d)
belajar bahasa
asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut sebagai bahasa
sasaran baik secara lisan maupun tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu
didukung oleh pembelajaran unsur-¬unsur bahasa sasaran.
e)
motivasi
belajar peserta didik merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajamya.
Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran
dan kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta didik. Dengan kata lain,
kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang
amat penting dalam keberhasilan belajar peserta didik.
f)
bahan pelajaran
dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik jika
berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena
itu, pengalaman peserta didik dalam lingkungan, minat, tata nilai, dan masa
depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran
dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
Dalam proses belajar-mengajar,
peserta didik merupakan subjek utama, bukan sebagai objek belaka. Karena itu,
ciri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan
yang terkait dengan pengajaran. Dalam proses belajar-mengajar guru berperan
sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan
berbahasanya. Akhimya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang
dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu pendekatan
individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif
pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan
rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan
kebermaknaan.
2.4
Tipe-tipe
Pendekatan Pembelajaran
1.
Pendekatan
Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL).
Pendekatan Kontekstual atau
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US
Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa
makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai
hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri
yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan
berusaha untuk menggapinya.
Pendekatan konstektual merupakan
pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan kontekstual sendiri dilakukan
dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu
konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi,
penilaian sebenarnya.
Dalam pengajaran kontekstual
memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu :
a.
mengaitkan.
adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru
menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang
sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui
siswa dengan informasi baru.
b.
mengalami.
merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan
informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat
terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta
melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
c.
menerapkan.
Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah.
Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan
relevan.
d.
kerjasama.
Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang
signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat
mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama
tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan
dunia nyata.
e.
mentransfer.
Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada
pemahaman bukan hapalan.
Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :
a.
guru yang
berwawasan. Maksudnya yaitu guru yang berwawasan dalam penerapan dan
pendekatan.
b.
materi dalam
pembelajaran. Dalam hal ini guru harus bisa mencari materi pembelajaran yang
dijiwai oleh konteks perlu disusun agar bermakna bagi siswa.
c.
strategi metode
dan teknik belajar dan mengajar. Dalam hal ini adalah bagaimana seorang guru
membuat siswa bersemangat belajar, yang lebih konkret, yang menggunakan
realitas, lebih aktual, nyata/riil, dsb.
d.
media
pendidikan. Media yang digunakan dapat berupa situasi alamiah, benda nyata,
alat peraga, film nyata yang mana perlu dipilih dan dirancang agar sesuai dan
belajar lebih bermakna.
e.
fasilitas. Media
pendukung pembelajaran kontekstual seperti peralatan dan perlengkapan,
laboratorium, tempat praktek, dan tempat untuk melakukan pelatihan perlu
disediakan.
f.
proses belajar
dan mengajar. Hal ini ditujukan oleh perilaku guru dan siswa yang bernuansa
pembelajaran kontekstual yang merupakan inti dari pembelajaran kontekstual.
g.
penilaian. Penilaian/evaluasi
otentik perlu diupayakan karena pada pembelajaran ini menuntut pengukuran
prestasi belajar siswa dengan cara- cara yang tepat dan variatif, tidak hanya
dengan pensil atau paper test.
h.
suasana. Suasana
dalam lingkungan pembelajaran kontekstual sangat berpengaruh karena dapat
mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan
siswa.
Karakteristik Pembelajaran CTL
a.
Kerjasama.
b.
Saling
menunjang.
c.
Menyenangkan,
tidak membosankan.
d.
Belajar dengan bergairah.
e.
Pembelajaran
terintegrasi.
f.
Menggunakan
berbagai sumber.
g.
Siswa aktif.
h.
Sharing dengan
teman.
i.
Siswa kritis
guru kreatif.
j.
Laporan kepada
orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum,
karangan siswa dan lain-lain.
Kelebihan
pendekatan Kontekstual
a.
Pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam
memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b.
Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena
metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa
dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
Kelemahan
Pendekatan Kontekstual
a.
Guru lebih
intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan
sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim
yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi
siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan
belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan
pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai
instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah
pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b.
Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan
mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan
strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini
tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa
agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
2.
Pendekatan
Kontruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan
pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas
siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan
diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan. Pada dasarnya pendekatan
konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan
yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam
pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan
masyarakat.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini
peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran.
Olek karena itu , guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan
materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.Jadi
pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan
pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Secara
umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar
dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan
sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat
beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam
pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky
menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan
(konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi
individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Menurut Suparno (1999:73) ada
beberapa prinsip dari konstruktivisme antara lain:
a.
pengetahuan
dibangun oleh siswa secara aktif .
b.
tekanan dalam
pembelajaran terletak pada siswa.
c.
mengajar adalah
membantu siswa belajar.
d.
tekanan dalam
pembelajaran lebih pada proses bukan pada akhir
e.
kurikulum
menekankan pada partisipasi siswa.
f.
guru adalah
fasilitator.
Adapun karakteristik pendekatan konstruktivisme menurut Driver (dalam Paul, 1996:69) bahwa karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:
a.
orientasi ialah
siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu
topik.
b.
licitasi ialah
membantu siswa untuk mengungkapkan idenya secara jelas.
c.
retrukturisasi
ide terdiri dari klarifikasi ide, membangun ide yang baru, mengevaluasi ide
baru dengan eksperimen.
d.
penggunaan ide
dalam banyak situasi.
e.
review adalah
bagaimana ide itu berubah.
Langkah pembelajaran dengan
pendekatan konstruktivisme, menurut Nurhadi (2003:39) bahwa penerapan
konstruktivisme muncul dengan lima langkah pembelajaran yaitu sebagai berikut:
a.
pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada
b.
pengetahuan
awal yang sudah dimiliki peserta didik akan menjadi dasar awal untuk
mempelajari informasi baru. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara pemberian
pertanyaan terhadap materi yang akan dibahas.
c.
pemerolehan
pengetahuan baru
d.
pemerolehan
pengetahuan perlu dilakukan secara keseluruhan tidak dalam paket yang
terpisah-pisah.
e.
pemahaman
pengetahuan
Pendekatan
konstruktivisme memiliki berbagai kelebihan antara lain:
a.
dengan
menggunakan pendekatan konstruktivisme siswa akan aktif dalam pembelajaran.
b.
menjadikan
proses pembelajaran tersebut menyenangkan dan lebih bermakna bagi siswa.
c.
siswa membangun
sendiri pengetahuannya maka siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya.
d.
suasana dalam
proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan sehingga
siswa tidak cepat bosan belajar.
e.
siswa merasa
dihargai dan semakin terbuka, karena setiap jawaban siswa ada penilaiannya.
f.
memupuk
kerjasama dalam kelompok.
g.
dengan adanya
kelebihan pada pendekatan konstruktivisme ini maka siswa di harapkan dapat
menyelesaikan masalah dengan berbagai cara, jadi peserta didik akan terlatih
untuk dapat menerapkannya dengan situasi yang berbeda atau baru.
Kekurangan Pendekatan Konstruktivisme :
a.
siswa masih
kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya
b.
membutuhkan
waktu yang lama terutama bagi siswa yang lemah.
c.
siswa yang
pandai kadang-kadang tidak sabar dalam menanti temannya yang belum selesai.
3.
Pendekatan
Deduktif
Pembelajaran dengan pendekatan
deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai
dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains
dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka
pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan
pengetahuan utama siswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman
mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer
informasi atau pengetahuan. Menurut Setyosari (2010:7) menyatakan bahwa
“Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang didasarkan pada
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan
menggunakan logika tertentu.” Hal serupa dijelaskan oleh Sagala (2010:76) yang
menyatakan bahwa: Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari
keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula
dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau
penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus. Sedangkan menurut
Yamin (2008:89) menyatakan bahwa “Pendekatan deduktif merupakan pemberian
penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk
penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.”
Dalam pendekatan deduktif
menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan
hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Disini guru menjelaskan
teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian menjabarkan kenyataan yang
terjadi atau mengambil contoh-contoh. Dari penjelasan beberapa teori dapat
diambil kesimpulan bahwa pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang
bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.
Adapun kelebihan
dari pendekatan deduktif adalah :
a.
tidak
memerlukan banyak waktu.
b.
sifat dan
formula yang diperoleh dapat langsung diaplikasikan kedalam soal-soal atau
masalah yang konkrit.
Kelemahan
pendekatan deduktif antara lain:
a.
siswa sering
mengalami kesulitan memahami makna dalam
pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa baru bisa memahami konsep setelah
disajikan berbagai contoh.
b.
siswa cenderung
bosan dengan pembelajaran dengan pendekatan deduktif, karna disini siswa langsung
menerima konsep dari guru tanpa ada kesempatan menemukan sendiri konsep
tersebut.
4.
Pendekatan
Induktif
Berbeda dengan pendekatan deduktif
yang menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat umum, maka pendekatan
induktif (inductif approach) menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang
bersifat khusus.. Metode induktif sering digambarkan sebagai pengambilan
kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan
induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan
pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan
pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan
proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum. Sedangkan
menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa: Pendekatan induktif dimulai dengan
pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau
prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan,
menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut.
Mengajar dengan pendekatan induktif
adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada siswa dari suatu contoh yang
spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu aturan prinsip atau
fakta yang pasti. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal dengan menyajikan
sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan,
prinsip atau aturan.
Menurut Sagala (2010:77)
langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan
induktif yaitu:
a.
memilih dan
mementukan bagian dari pengetahuan (konsep, aturan umum, prinsip dan
sebagainya) sebagai pokok bahasan yang akan diajarkan.
b.
menyajikan
contoh-contoh spesifik dari konsep, prinsip atau aturan umum itu sehingga
memungkinkan siswa menyusun hipotesis (jawaban sementara) yang bersifat umum.
c.
kemudian
bukti-bukti disajikan dalam bentuk contoh tambahan dengan tujuan membenarkan
atau menyangkal hipotesis yang dibuat siswa.
d.
kemudian
disusun pernyataan tentang kesimpulan misalnya berupa aturan umum yang telah
terbukti berdasarkan langkah-langkah tersebut, baik dilakukan oleh guru atau
oleh siswa.
Adapun
kelebihan dari pendekatan induktif dibandingkan dengan pendekatan antara lain
adalah :
a.
memberikan
kesempatan pada siswa untuk berusaha sendiri atau menemukan sendiri suatu
konsep sehingga akan diingat dengan lebih baik.
b.
murid memahami
sifat atau rumus melalui serangkaian contoh. Kalau terjadi keraguan mengenai
pengertian dapat segera diatasi sejak masih awal.
c.
dapat
meningkatkan semangat belajar siswa.
Kelemahan dari pendekatan induktif antara lain :
a.
memerlukan
banyak waktu.
b.
kadang-kadang
hanya sebagian siswa yang terlibat secara aktif.
c.
sifat dan rumus
yang diperoleh masih memerlukan latihan atau aplikasi untuk memahaminya.
d.
secara
matematik (formal) sifat atau rumus yang diperoleh dengan pendekatan induktif
masih belum menjamin berlaku umum.
5.
Pendekatan
Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan
yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar
tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep merupakan struktur mental
yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Pendekatan Konsep merupakan
suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa
memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu
diperoleh.
Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu,
a.
Tahap Enaktik
Tahap enaktik dimulai dari
pengenalan benda konkret,menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa
pengalaman baru, pengamatan, penafsiran tentang benda baru.
b.
Tahap Simbolik
Tahap simbolik siperkenalkan dengan:
Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf. kode, seperti (?=,/) dll.
Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup
mengerti akan ciri-cirinya. Memberi nama, dan istilah serta defenisi.
c.
Tahap Ikonik
Tahap ini
adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak, seperti: Menyebut nama, istilah,
definisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya.
6.
Pendekatan
Proses
Pendekatan proses merupakan
pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati
proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil.
Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses.
Pendekatan ini penting untuk melatih
daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta
didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan
atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang
dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian,
keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
Kelebihan
pendekatan proses adalah :
a.
memberi bekal
cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting untuk pengembangan
pengetahuan dan masa depan.
b.
pendahuluan
proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir
dan cara memperoleh pengetahuan.
Kelemahan pendekatan proses adalah :
a.
memerlukan
banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan pengajaran yang
ditetapkan dalam kurikulum.
b.
memerlukan
fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat
menyediakannya.
c.
merumuskan
masalah, menyusun hipotesis, merancangkan suatu percobaan untuk memperoleh data
yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak semua siswa mampu
melaksanakannya.
7.
Pendekatan Open
– Ended
Menurut Suherman dkk (2003; 123)
problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem
tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang
dihadapkan denganOpen-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan
jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.
Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan
jawaban, namun beberapa atau banyak.
Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah
dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang
diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut.
Contoh penerapan masalah Open-Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika
siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam
menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil)
akhir.
Dalam pendekatan open-ended guru
memberikan permasalah kepada siswa yang solusinya tidak perlu ditentukan hanya
melalui satu jalan. Guru harus memanfaatkan keragaman cara atau prosedur yang
ditempuh siswa dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut akan memberikan
pengalaman pada siswa dalam menemukan sesuatu yang baru berdasarkan
pengetahuan, keterampilan dan cara berfikir matematik yang telah diperoleh
sebelumnya. Ada beberapa kelebihan dari pendekatan ini, antara lain:
a.
siswa memiliki
kesempatan untuk berpartisipasi secara lebih aktif serta memungkinkan untuk
mengekspresikan idenya.
b.
siswa memiliki
kesempatan lebih banyak menerapkan pengetahuan.
c.
siswa dari
kelompok lemah sekalipun tetap memiliki kesempatan untuk mengekspresikan
penyelesaian masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri.
d.
siswa terdorong
untuk membiasakan diri memberikan bukti atas jawaban yang mereka berikan.
e.
siswa memiliki
banyak pengalaman, baik melalui temuan mereka sendiri maupun dari temannya
dalam menjawab permasalahan.
Disamping
kelebihan yang dapat diperoleh dari pendekatan open-ended, terdapat juga
beberapa kelemahan, diantaranya:
a.
sulit membuat
atau menyajikan situasi masalah yang bermakna bagi siswa.
b.
mengemukakan
masalah yang langsung dapat dipahamai siswa sangat sulit sehingga banyak siswa
yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
c.
karena jawaban
bersifat bebas, siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan
jawaban mereka.
d.
mungkin ada
sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan
karena kesulitan yang mereka hadapi.
8.
Pendekatan
Saintific
Proses pembelajaran pada Kurikulum
2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik.
Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap
menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu
tentang ‘mengapa’. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau
materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Ranah pengetahuan
menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu
tentang ‘apa’.Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara
kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang
memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari
peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
Langkah-langkah Pendekatan Saintific
a.
observing
(mengamati), Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat).
b.
questioning
(menanya), Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa
yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa
yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang
bersifat hipotetik).
c.
associating
(menalar), mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil
kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan
kegiatan mengumpulkan informasi. Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari
yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan
informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki
pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
d.
experimenting
(mencoba), Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta
didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau
substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus
memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta
didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan
tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah
untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
e.
networking
(membentuk Jejaring/ mengkomunikasikan), Menyampaikan hasil pengamatan,
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media
lainnya.
c)
Implikasi
Pendekatan Pembelajaran dalam Pembelajaran
1.
Pendekatan
Langsung
Pendekatan langsung terdiri dari empat tahap pembelajaran :
a.
Tahap
Presentasi
Ada lima metode pembelajaran
penting yang harus digunakan selama tahap presentasi pembelajaran langsung:
(1) review materi sebelumnya atau keterampilan awal yang diperlukan;
(2) pernyataan mengenai pengetahuan atau keterampilan khusus yang harus
dipelajari; (3) pernyataan atau pengalaman yang menyediakan siswa dengan
penjelasan tentang mengapa tujuan khusus ini penting; (4) yang jelas,
penjelasan pengetahuan atau keterampilan yang harus dipelajari, dan (5)
beberapa kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan pemahaman awal mereka
menanggapi pemeriksaan guru.
b.
Tahap Latihan
Terdapat tiga metode pengajaran dalam tahap
latihan : (1) latihan terbimbing langsung dibawah pengawasan guru, (2) latihan
mandiri dimana siswa mengerjakan sendiri, dan (3) tinjauan berkala (sering
dimasukkan setiap hari dalam praktek dibimbing dan mandiri) dimana sebelumnya
siswa belajar memanfaatkan konten atau skills.
c.
Tahap Penilaian
dan Evaluasi
Ada dua penilaian dan evaluasi pada pembelajaran
langsung yaitu (1) tes formatif, dan (2) tes sumatif.
d.
Monitoring dan
Feedback
Pemantauan dilakukan pada tahap 1, 2 dan 3. Jika
diperlukan maka diberikan umpan balik agar proses presentasi, latihan dan
penilaian berjalan sesuai yang diharapkan.
2.
Pendekatan
Diskusi
Pembelajaran
diskusi harus menggeser pembelajaran yang berpusat pada menjadi
pendekatan yang berpusat pada tanggungjawab belajar bersama antara guru dan
siswa. Pembagian tanggungjawab ini tidak berarti mengurangi peran guru dalam
proses pembelajaran tetapi mengelola dan mengarahkan interaksi antara guru-siswa
dan siswa-siswa. Oleh karena itu harus ada pengaturan peran dan tugas yang
jelas.
3.
Pendekatan
Pengalaman
Ada beberapa metode dalam pendekatan pengalaman dalam pembelajaran
yaitu:
a.
Framing
The Experience (Merangkaikan pengalaman)
1)
Menetapkan
tujuan atau hasil pembelajaran
2)
Membicarakan
kriteria penilaian
3)
Membangun
hubungan (teman sebaya, guru,komunitas dan lingkungan)
b.
Activating
experience (Menggerakkan Pengalaman)
1)
Pengalaman
nyata
2)
Membuat
keputusan hasil yang nyata
3)
Orientasi
Masalah
4)
Kesulitan Optimal
c.
Reflecting on
experience (Evaluasi/Penilaian dalam Pengalaman)
1)
Fasilitas guru
sebagai fasilitator
2)
Membuat
kelompok
4.
Pendekatan
Berbasis Masalah
a.
Pemilihan
masalah
PBI ini dirancang
untuk mendukung pengembangan dan penyempurnaan keterampilan berpikir tingkat
tinggi. Hal ini tidak cocok sebagai strategi instruksional untuk mengajarkan
keterampilan dasar. Pendekatan PBI memerlukan pemilihan masalah yang
pembelajar (bahkan pelajar muda) telah memiliki pengetahuan, yang mereka
peroleh dari pengalaman hidup, sehingga penerapan pengetahuan ini dengan
pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan pemecahan masalah dapat
menghasilkan pemahaman lebih dalam.
b.
Peran guru.
Hal yang paling
penting dalam keberhasilan pelaksanaan FBI adalah kemampuan guru berfungsi
sebagai fasilitator pembelajaran dan bukan sebagai
penyedia informasi atau materi.
c.
Penilaian
autentik praktek untuk memvalidasi tujuan pembelajaran.
Penggunaan penilaian autentik FBI, mempertimbangkan hal berikut:
a.
Instruktur /
guru harus sangat mengerti yang dimaksud (atau antisipasi) hasil pembelajaran
yang berkaitan dengan masalah yang diajukan ke pelajar. Strategi penilaian yang
digunakan harus selaras dengan hasil yang diinginkan.
b.
Penilaian
sumatif dilakukan pada akhir siklus pemecahan masalah. kelompok siswa dinilai
berdasarkan pada solusi yang ditawarkan mereka untuk memecahkan masalah
tersebut.
c.
Penilaian
formatif dapat terjadi setiap saat dalam siklus FBI. Barrows(1988)
menunjukkan setelah peserta didik mengikuti pembelajaran mereka diuji
dengan menuliskan pengetahuan yang didapat pada proses pemecahan masalah.
4. Gunakan penjelasan ulang secara konsisten
dan menyeluruh.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh desainer instruksional
adalah :
a.
Tujuan dari
proses pembekalan ini adalah untuk membantu peserta didik untuk mengenali,
verbalisasi, dan mengkonsolidasikan apa yang telah mereka pelajari, dan untuk
mengintegrasikan informasi dengan pengetahuan yang ada.
b.
Tugas
guru adalah untuk memastikan suara yang sama bagi semua peserta, jadi hati-hati
untuk mendengarkan semua anggota dan meminta semua anggota untuk mereka
berpendapat dan berkomentar.
c.
Ikuti tanya
jawab didirikan protokol. Tahu generik dan spesifik pertanyaan untuk diminta
untuk memandu sesi tanya jawab. Siapkan pertanyaan ide / topik untuk memastikan
bahwa Anda (sebagai debriefer) mengingat semua pembelajaran yang telah dibahas
dalam kegiatan FBI.
d.
Ajukan
pertanyaan yang mendorong peserta didik agar sesuai dengan pengetahuan baru ke
dalam skema yang ada.
e.
Dorong peserta
didik untuk mendaftar apa yang telah mereka pelajari dengan menggunakan peta
konsep-menyediakan bahan-bahan yang diperlukan.
5.
Pendekatan
Simulasi
Secara umum desain pendekatan simulasi memiliki tujuh prinsip umum,
sebagai berikut :
a.
Fungsi Isi
Bagian ini
menjelaskan prinsip-prinsip untuk mengatur isi modulfungsional dari sebuah
pembelajaran simulasi. Konten Simulasi mengambil model yang dinamis replika
sistem nyata atau khayalan.
b.
Fungsi Strategi
Melibatkan Desain
strategi yang menggambarkan konteks pengaturan instruksional, pengaturan
sosial, tujuan, struktur sumber daya, dan acara yang diberikan.
c.
Fungsi Kontrol
Desain simulasi
fungsi menggambarkan sarana yang seorang pelajar dapat menyampaikan pesan-pesan
yang mempengaruhi terbukanya isi, strategi, atau unsur-unsur dinamis lainnya
dari pengalaman. Desain sistem kontrol sangat menantang karena
tindakan belajar berlangsung dalam konteks yang dinamis dan harus memanfaatkan
pertukaran informasi dan kontrol.
d.
Fungsi Pesan
Pesan Menghasilkan unit:
a.
Prinsip: Pesan
Elements
b.
Prinsip:
Pendekatan untuk Penataan pesan
c.
Prinsip:
Pelaksanaan-waktu Pembangunan pesan
6.
Fungsi
Representasi
Fungsi
representasi desain simulasi adalah yang paling terlihat dan nyata. Desainnya
melibatkan semua unsur sensorik pengalaman simulasi-pemandangan, suara, sensasi
taktil, dan kinestetik sensasi. Fungsi representasi desain yang menggambarkan
semua pengalaman indrawi yang akan diadakan dan bagaimana mereka akan
diintegrasikan dan disinkronkan. Semua dijelaskan struktur titik ini untuk
konten, strategi,kontrol, dan pesan yang abstrak dan menjadi terlihat hanya
melalui representasi desain. Oleh karena itu, representasi adalah jembatan yang
menghubungkan elemen desain abstrak dengan simbolis tertentu elemenmedia.
7.
Media-fungsi
logika
Media-melaksanakan
fungsi logika representasi dan melaksanakan operasi logis yang
memungkinkan simulasi peristiwa terjadi. Hal ini dapat juga mencakup
perhitungan dan pengumpulan data.
8.
Fungsi
pengelolaan data
Mengelola data yang dihasilkan dari interaksi
BAB 3. PENUTUP
3.1
Simpulan
1.
Pendekatan
Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL).
Pendekatan Kontekstual atau
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
2.
Pendekatan
Kontruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan
pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas
siswa dalam menyalurkan ide-ide baru
3.
Pendekatan
Deduktif
Pembelajaran dengan pendekatan
deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai
dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori.
4.
Pendekatan
Induktif
Berbeda dengan pendekatan deduktif
yang menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat umum, maka pendekatan
induktif (inductif approach) menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang
bersifat khusus..
5.
Pendekatan
Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan
yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar
tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).
6.
Pendekatan
Proses
Pendekatan proses merupakan
pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati
proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
7.
Pendekatan Open
– Ended
Menurut Suherman dkk (2003; 123)
problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem
tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka.
8.
Pendekatan
Saintific
Proses pembelajaran pada Kurikulum
2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik.
DAFTAR PUSTAKA
Bektiarso, S.
2015. Strategi Pembelajaran.Yogyakarta :LaksBang PRESSindo
Tazbhy.
2012. Pendekatan Pembelajaran. http://thazbhy.blogspot.co.id /2014/01/ tipe-tipe-pendekatan-pembelajaran.html .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar